Di sudut-sudut warung kopi, di kafe-kafe kecil yang dipenuhi WiFi gratis, hingga layar ponsel yang tak pernah mati sepanjang hari, anak-anak muda hari ini asyik bergumul dengan tren, gosip selebritas, dan konten viral yang datang dan pergi sesuka hati.

Obrolan tentang siapa yang sedang naik daun di media sosial lebih ramai ketimbang perbincangan soal harga beras yang melonjak atau aturan baru yang membatasi ruang berekspresi.
Di negeri ini, politik perlahan berubah menjadi ruang asing bagi generasi mudanya. 

Padahal, di tangan merekalah masa depan bangsa ini seharusnya dititipkan. Ironisnya, sebagian dari mereka justru enggan menyentuh soal-soal politik, seakan urusan negara adalah panggung para orang tua dan elite yang gemar bersiasat.

Saya kerap menemukan anak-anak muda yang terang-terangan berkata, “Ngapain ikut politik? Sama saja bohong.” 

Sikap itu, tentu saja, bukan lahir dari ruang kosong. Bertahun-tahun mereka disuguhi tontonan tentang politisi yang korup, janji kampanye yang menguap, hingga permainan kekuasaan yang mengabaikan kepentingan rakyat. Politik di mata mereka adalah dunia yang kotor, penuh intrik, dan menjijikkan.

Namun, dalam kebisuan itu, mereka lupa. Bahwa setiap keputusan politik menentukan harga pendidikan yang mereka bayar, layanan kesehatan yang mereka terima, hingga kebebasan berbicara yang bisa saja sewaktu-waktu dirampas. Politik, suka atau tidak, hadir di tiap ruang kehidupan.

Sejarah Indonesia justru mencatat, bahwa perubahan-perubahan besar tak pernah lahir dari elite kekuasaan. Ia datang dari keberanian pemuda yang resah lalu bersuara.

Dari Sumpah Pemuda 1928 hingga Reformasi 1998, semua digerakkan oleh gelombang anak muda yang tak sudi masa depannya digadaikan.

Kini, ruang itu justru mulai ditinggalkan. Disrupsi digital melahirkan distraksi besar-besaran.