SABADESA.COM, Cisarua - Di tengah derasnya arus modernisasi, budaya Sunda tetap hidup di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Melalui program Kamis Nyunda, masyarakat diajak untuk kembali mengenal dan menghayati akar budaya yang menjadi jati diri urang Sunda.

Setiap hari Kamis, nuansa adat terasa kuat di kantor desa. Para perangkat desa mengenakan pakaian adat Sunda serba putih lengkap dengan iket kepala khas seperti yang kerap dikenakan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi. Lebih dari sekadar penampilan, tradisi ini menjadi sarana untuk merawat nilai-nilai luhur budaya Sunda seperti kesantunan, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam.

Kepala Desa (Kades) Tugu Selatan, Eko Windiana, menekankan bahwa pelestarian budaya harus dimulai dari keteladanan pemerintah desa.

“Budaya Sunda bukan sekadar warisan, tapi identitas. Kami ingin generasi muda merasa bangga menjadi bagian dari budaya ini, bukan malah melupakannya,” ujar Eko, Kamis (19/06).

Tradisi Kamis Nyunda tidak hanya mengangkat aspek estetika, tetapi juga memberi ruang edukatif dan sosial. Pemerintah desa bersinergi dengan berbagai pihak untuk memastikan budaya lokal tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua BUMDes Tugu Selatan Mandiri, Dadang Mansur, menyampaikan bahwa penguatan budaya juga dapat membuka peluang ekonomi baru melalui wisata budaya dan produk UMKM lokal.

“Budaya punya daya jual. Jika dikelola dengan visi, ini bisa jadi kekuatan ekonomi masyarakat,” jelas Dadang.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Tugu Selatan, Kang Ai Iman, berharap kegiatan seperti Kamis Nyunda bisa meresap ke dalam ruang-ruang pendidikan, kegiatan sosial, dan keseharian masyarakat.

“Semoga ini jadi awal kebangkitan budaya Sunda di Puncak. Lebih dari seragam, ini tentang cara hidup yang penuh tata krama dan kebersamaan,” tuturnya.